Info&tanya jawab

Kamis, 23 Juni 2022

Dijual Gelondongan Per Karung 100 Ribu, Ongkos Panjat Pinang Per Pohon Seharga 3000 Rupiah

Foto: Dawataa Institut
Dawataa – Komoditas pinang masih menjadi salah satu sumber pendapatan tambahan bagi sebagian masyarakat Desa Dawataa, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur. Di tengah aktivitas pertanian sehari-hari, warga memanfaatkan hasil panen pinang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Menariknya, sistem penjualan pinang di desa ini masih dilakukan secara sederhana. Pinang yang telah dipanen umumnya dijual dalam bentuk gelondongan atau buah utuh yang dikemas dalam karung. Untuk satu karung pinang gelondongan, harga jual di tingkat petani berkisar Rp100 ribu.
Kalau musim panen, pinang biasanya dijual per karung. Harga satu karung sekitar seratus ribu rupiah, tergantung kualitas dan jumlah isi karung, ujar salah seorang warga.
Sebelum sampai ke tangan pembeli, proses panen pinang membutuhkan tenaga dan keterampilan tersendiri. Pohon pinang yang tinggi menjulang membuat pemilik kebun harus menggunakan jasa pemanjat untuk memetik buah yang telah matang. 
Di Desa Dawataa, ongkos memanjat pinang dibayar berdasarkan jumlah pohon yang dipanen. Untuk setiap pohon pinang yang dipanjat, pemanjat menerima upah sebesar Rp3 ribu.
Biasanya dihitung per pohon. Satu pohon tiga ribu rupiah. Kalau pohonnya banyak, pemanjat bisa memperoleh penghasilan tambahan yang lumayan, tutur seorang petani pinang.
Profesi pemanjat pinang sendiri bukan pekerjaan yang mudah. Selain membutuhkan keberanian, pekerjaan ini juga memerlukan ketangkasan dan pengalaman karena risiko tergelincir atau terjatuh selalu ada. Dengan hanya berbekal alat sederhana, para pemanjat harus naik hingga ke pucuk pohon untuk memotong tandan pinang yang siap dipanen.
Bagi sebagian warga, kegiatan memanjat pinang menjadi pekerjaan sampingan yang dapat membantu menambah pendapatan keluarga, terutama pada musim panen. Sementara bagi pemilik kebun, keberadaan jasa pemanjat sangat membantu mempercepat proses pemanenan.
Pinang hasil panen umumnya dipasarkan kepada pengepul yang datang langsung ke desa. Selanjutnya, komoditas tersebut dibawa ke pasar yang lebih besar untuk dijual kembali atau diproses sesuai kebutuhan pasar.
Meskipun harga jual pinang tidak selalu stabil, komoditas ini tetap memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat Dawataa. Selain menjadi sumber penghasilan, pinang juga memiliki nilai sosial dan budaya yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat setempat.
Warga berharap harga pinang dapat terus membaik sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Mereka juga berharap adanya perhatian terhadap pengembangan komoditas lokal agar hasil pertanian masyarakat memiliki nilai tambah yang lebih besar.
Di balik sekarung pinang yang dijual seharga Rp100 ribu, tersimpan kerja keras para petani dan keberanian para pemanjat yang setiap hari bertaruh tenaga demi menghidupi keluarga. Dari kebun-kebun sederhana di Desa Dawataa, pinang terus menjadi bagian dari denyut ekonomi masyarakat pedesaan.

Foto: Dawataa Institut

Foto: Dawataa Institut
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar