Info&tanya jawab

Sabtu, 26 Maret 2022

Kemiri, Produksi Hasil Bumi Andalan Petani Dawataa

Foto: Corner Abon Tabi
Dawataa – Di tengah hamparan kebun yang membentang di Desa Dawataa, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, pohon kemiri tumbuh subur dan menjadi salah satu sumber penghidupan penting bagi masyarakat. Bagi para petani, kemiri bukan sekadar hasil hutan atau tanaman perkebunan biasa, melainkan komoditas andalan yang telah lama menopang ekonomi keluarga.
Setiap musim panen tiba, warga berbondong-bondong menuju kebun untuk memungut buah kemiri yang telah jatuh dari pohonnya. Aktivitas ini menjadi pemandangan yang lazim ditemui, bahkan sering melibatkan seluruh anggota keluarga.
Kalau musim kemiri, hampir setiap hari kami ke kebun untuk memungut buah yang jatuh. Hasilnya bisa membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, ujar seorang petani kemiri.
Setelah dikumpulkan, buah kemiri menjalani serangkaian proses pengolahan yang cukup panjang sebelum siap dipasarkan. Tahap pertama adalah mengupas kulit buah bagian luar untuk memisahkan biji kemiri dari lapisan kulit yang masih basah.
Biji kemiri kemudian dijemur di bawah terik matahari selama beberapa hari. Proses penjemuran bertujuan untuk mengurangi kadar air sehingga biji lebih awet dan mudah diolah pada tahap berikutnya.
Setelah benar-benar kering, petani mulai memecahkan cangkang keras kemiri menggunakan alat sederhana. Pekerjaan ini membutuhkan ketelitian dan kesabaran agar isi kemiri tidak hancur saat dipukul.
Daging kemiri yang telah terlepas dari cangkangnya kemudian dicungkil satu per satu sebelum dikumpulkan untuk dijual. Kemiri tanpa cangkang umumnya memiliki nilai jual yang lebih tinggi karena telah melalui proses pengolahan tambahan.
Namun, tidak semua petani memilih menjual kemiri dalam bentuk kupasan. Sebagian warga juga menjual kemiri secara utuh lengkap dengan cangkangnya kepada para pengepul. Cara ini dinilai lebih praktis karena tidak membutuhkan banyak tenaga dan waktu dalam proses pengolahan.
Ada yang dijual utuh dengan cangkangnya karena lebih cepat. Tetapi ada juga yang dikupas sampai bersih agar harga jualnya lebih tinggi, tutur seorang ibu rumah tangga yang turut membantu proses pengolahan kemiri.
Kemiri dari Desa Dawataa biasanya dipasarkan kepada pedagang pengumpul yang datang langsung ke desa atau dibawa ke pasar-pasar terdekat. Selain digunakan sebagai bumbu dapur, kemiri juga memiliki nilai ekonomi dalam industri minyak dan berbagai produk olahan lainnya.
Meski harga kemiri di pasaran terkadang mengalami fluktuasi, komoditas ini tetap menjadi salah satu andalan masyarakat. Hasil penjualannya dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan keluarga, seperti biaya pendidikan anak, kebutuhan pangan, hingga keperluan rumah tangga lainnya.
Bagi warga Dawataa, kemiri bukan hanya soal hasil panen. Di balik setiap biji yang dijual, tersimpan kerja keras dan ketekunan para petani yang sejak pagi hingga petang bergelut di kebun dan halaman rumah untuk mengolahnya.
Dari memungut buah yang jatuh di bawah rindangnya pepohonan, mengupas kulitnya, menjemur, memecahkan cangkang, hingga mencungkil isi kemiri dengan tangan sendiri, seluruh proses itu menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Kemiri telah menjadi denyut kehidupan masyarakat Desa Dawataa. Dari hasil bumi sederhana itulah harapan terus tumbuh, menghidupi keluarga, dan menjaga roda perekonomian desa tetap berputar.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar